Tangraya Post — Kerap pamer kemesraan lewat media social, tampil bak Romeo and Juliet. Rumahtangga mantan Gubernur Jawa Barat dan anggota DPR RI, Ridwan Kamil dan Atalia Praratya justru ambruk setelah susah payah dibangun selama 29 tahun.
Padahal nyaris di setiap momen, kemesraan mereka abadikan kamera. Sehingga publik sempat terkesan dengan apa yang disuduhkan. Bak opera sabun rupanya adegan itu hanya pantulan pencitraan belaka tak sepenuhnya mewakili kenyataan.
Di balik kemesraan sejoli berbalut kemewahan, rupanya tersingkap borok petualangan asmara terlarang sang Arjuna hingga Dewi Sinta pun merana. Parade kemesraan mereka kini tinggal membekas sebagai kesan setelah bukti demi bukti pengkhiatanan mantan orang nomor satu di Jawa Barat ini mencuat ke permukaan.
Setelah jejak digital liburan di kota mode Italia bersama penyanyi Aura Kasih sukses dikuliti badan intelegen netizen. Kali ini foto berlatar liburan bulan mei 2023 lalu yang pernah diposting RK kembali dihubungkan netizen dengan postingan Aura Kasih dengan latar foto tatapan sang pelantun Mari Bercnta di depan jendela hotel di Amerika Serikat dengan tanggal, bulan, dan tahun postingan yang tertulis 22 mei 2023. Netizen pun berusaha mengaitkan mungkinkah bukti-bukti postingan ini berkesuaian dengan torr keliling luar negeri mereka di waktu bersamaan?
Pertanyaan itu masih berselimut jawaban misteri. Tapi yang pasti menurut pandangan intelektual muda sekaligus Studi Perbandingan Politik STISNU Kota Tangerang Banten, lepas dari berbagai spekulasi gosip dan gimmick-gimmick serupa operas sabun, fenomena ini memperlihatkan jika keruntuhan personal brand Ridwan Kamil hanyalah gejala paling kasat mata dari krisis yang lebih struktural. Ia bukan sebab, melainkan simptom.
“Fokus berlebihan pada figur justru menutup persoalan yang lebih serius yakni politik Indonesia tergelincir dari arena deliberasi menuju arena simulasi, “ tutur Abdul Hakim.
Media sosial menurutnya kian memperparah kondisi ini. Dalam sistem algoritma, yang bernilai bukan argumentasi, melainkan atensi. Politisi belajar cepat: kebijakan yang kompleks tidak laku, sementara gestur simbolik dan narasi personal lebih mudah viral. Maka lahirlah generasi pemimpin yang lebih fasih berbicara tentang dirinya daripada tentang kebijakannya.
“Inilah politik yang tidak lagi berurusan dengan kepentingan publik, tetapi dengan branding metrics. Seorang politisi dianggap berhasil bukan karena menurunkan kemiskinan atau memperbaiki tata kelola, melainkan karena berhasil mempertahankan sentimen positif di lini masa. Negara pun berubah menjadi properti komunikasi pribadi,” pungkas pria yang tinggal di Tangerang Selatan ini.
Pada akhirnya publik sadar jika politik pencitraan hanya bisa menyembulkan kesan, jauh dari kenyataan yang semula dibayangkan ideal. Bahkan bagi pelaku pencitraan sendiri seperti Atalia Praratya yang entah sadar atau tidak, ia sudah terjebak dalam permainannya sendiri yang semula gemar pamer kemesraan.
